Orang Melayu Pontianak mungkin adalah orang yang paling rasional dalam hal mengusir hantu. Tidak menggunakan mantra-mantra, tidak menggunakan ayat suci Al-Qur'an, dan tidak pula menggunakan metode metafisik lainnya. Leluhur Orang Melayu Pontianak sudah menemukan cara yang paling rasional, logis, dan tidak syirik dalam hal mengusir makhluk halus. Caranya yaitu dengan menembakkan meriam yang suaranya membahana sekotaPontianak. Ini sebenarnya adalah legenda paling masyhur sekotaPontianak. Terlepas dari legenda ini benar atau tidak, tapi dengan cara ini, leluhur pendiri Kota Pontianak sudah memberikan contoh yang paling masuk akal berhubungan dengan makhluk halus. Terlepas yang diusir itu memang benar-benar hantu (makhluk halus) atau mungkin itu hanya kiasan. Karena ada juga yang mengatakan, bahwa hantu yang dimaksud adalah perompak-perompak yang ketika itu banyak sekali berlabuh di pesisir Sungai Kapuas. Tradisi membunyikan meriam hingga saat ini masih lestari di Kota Pontianak, yang biasanya diadakan untuk menyambut Hari Raya (lebaran) Idul Fitri dan Idul Adha, serta biasa juga untuk meramaikan Perayaan Hari Jadi Kota Pontianak dan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK). Jika dahulunya bahan peledak yang digunakan adalah mesiu, maka kini bahan peledak yang digunakan adalah karbit, sehingga populer disebut sebagai "meriam karbit".   Leluhur Orang Melayu Pontianak seakan-akan mengajarkan, bahwa tidak benar jika mengusir makhluk halus dengan menggunakan mantra-mantra. Tidak benar pula jika mengusir makhluk halus dengan cara membacakan ayat suci Al-Qur'an. Karena jika ini dilakukan (menggunakan ayat suci Al-Qur'an untuk mengusir makhluk halus), maka kita sudah menempatkan Al-Qur'an pada posisi yang paling rendah hanya untuk sekedar mengusir makhluk halus. Dalam hal ini, aku adalah orang yang paling tidak percaya akan keberadaan hantu (makhluk halus, dsb). Maksudnya, bahwa aku tak percaya bahwa hantu atau makhluk halus lainnya itu bisa mengganggu manusia dengan cara menampakkan dirinya dalam wujud yang serammisalkan, atau mengganggu manusia dengan cara merasuki tubuh (jasad) manusia yang populer kita kenal dengan sebutan kerasukan. Bayangkan saja, bahwa makhluk halus itu memiliki dimensi dan alam yang berbeda dengan manusia. Makhluk halus itu immateril, sedangkan manusia adalah materil. Kiranya, makhluk halus hanya bisa mempengaruhi manusia pada dimensi yang sama pula, yaitu immateril. Makhluk halus hanya bisa mempengaruhi manusia melalui jiwa (ruhani) dan pikirannya, bukan melalui jasmani manusia. Karena itu pulalah, aku adalah orang yang paling tidak percaya dengan dukun, paranormal, peramal, dan semacamnya. Dalam hal ini,aku juga tidak mengecualikan metode mengusir makhluk halus dengan menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur'an (mungkin anda sudah tahusendiri metode yang kumaksudkan). Karena metode ini sama nistanya dengan metode perdukunan lainnya. Bahkan mungkin lebih nista dibandingkan dengan metode perdukunan, karena telah menjerumuskan Al-Qur'an tidak lebih hanya sebagai ayat-ayat pengusir setan, dan mengajarkan kita untuk menjadi umat yang paling irrasional. Masih pantaskah kita menyebut umat ini sebagai "ulil albab" (orang-orang yang berakal)? Firman Allah: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yangberakal (ulil albab),” (Q.S. Ali ‘Imraan: 190) Siapakah "ulil albab"? “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali ‘Imraan: 191) Semoga kita selalu berada pada jalan yang lurus. Semoga aqidah kita tak pernah melenceng sedikitpun, walau dengan bunga-bunga dan bumbu-bumbu yang berkedok menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Insya Allah.
HOME


XtGem Forum catalog